SEMINAR & E-BOOK LAUNCH “BLUE CARBON DAN PERUBAHAN IKLIM”

SEMINAR & E-BOOK LAUNCH  “BLUE CARBON DAN PERUBAHAN IKLIM”

SEMINAR & E-BOOK LAUNCH  “BLUE CARBON DAN PERUBAHAN IKLIM”

    Pemanasan global yang kita rasakan merupakan pemicu dari perubahan iklim saat ini. Bencana global yang bukan hanya dirasakan oleh beberapa wilayah saja, namun seluruh wilayah, tak terkecuali di Manado. Perubahan iklim terus menjadi sorotan utama khususnya bagi daerah berdampak bencana. Kurangnya pemahaman tentang perubahan iklim dan upaya mitigasi dan adaptasi di daerah-daerah Indonesia menjadikan pengurangan emisi karbon sulit dilakukan. Kota sebagai sumber pembuangan emisi karbon terbesar kedua setelah industri, berperan besar dalam terjadinya fenomena perubahan iklim tersebut.

img-1551460405.jpg

Berangkat dari isu tersebut Climate Institute dan FNF Indonesia mengadakan seminar dan e-book launching di Kota Manado dengan tujuan untuk mensosialisasikan pemahaman tentang Perubahan Iklim dan Blue Carbon. Indonesia telah kehilangan lebih dari seperempat luas hutan bakau dalam tiga dekade terakhir. Bahkan tiap tahunnya kita bisa kehilangan puluhan ribu hektar area Blue Carbon.


ADHITLAN sebagai penulis e-book “Blue Carbon & Perubahan Iklim” mengungkapkan bahwa: “Daerah pesisir di Indonesia sangat luas, hal ini dapat menjadi lahan yang cocok untuk mengelola Blue Carbon kita. Pengelolaan Blue Carbon di Indonesia diyakini akan mampu mempercepat target penurunan emisi karbon sesuai dengan NDC (Nationally Determined Contributions) Indonesia dan target penurunan emisi Indonesia bisa lebih maksimal dari 29 persen pada tahun 2030 nanti. 


img-1551460443.jpg


Berbeda dengan ekosistem daratan yang cenderung akan rusak dan kembali melepaskan karbon, ekosistem pesisir justru mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam sendimen secara terus-menerus dalam kurun waktu yang lama, bila dikelola dengan baik. Terdapat tiga ekosistem yang berpotensi sebagai Blue Carbon, yaitu Mangrove, Padang Lamun, dan Rawa Payau. Indonesia butuh memaksimalkan ketiga ekosistem ini sebgai garda terdepan penyerap emisi karbon.


img-1551460510.jpg


Adhit juga menambahkan bahwa di era digital saat ini millennials berperan penting dalam mengurangi jejak karbon individunya. Selain itu millennials memiliki potensi untuk mewujudkan kelestarian Blue Carbon di daerahnya masing-masing, salah satunya dengan berkolaborasi dengan lintas lini, seperti pemerintah, NGO, sampai komunitas-komunitas pro-lingkungan. Sosial media bisa menjadi tempat untuk mengkampanyekan perubahan ikim dan Blue Carbon. Mengingat semangat ecotourism lebih melekat di generasi millennials saat ini.


Sebelumnya ADHITLAN juga menjadi pembicara dalam workshop Climate Vlogger di Manado, Adhit memberikan materi tentang "Influencer Strategy for Climate Change & Environtment"


img-1551460488.jpg

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar