Seharian di Benteng Keraton Buton

Seharian di Benteng Keraton Buton

PULAU Buton tidak hanya menyajikan keindahan alam, namun ada cerita sejarah yang cukup menarik. Ada kejayaan Kesultanan Buton di masa lalu. Ada juga peninggalan-peninggalan mistik yang patut dilihat. 

Terletak di Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Dari Jakarta, Kota Bau-Bau dapat ditempuh dengan dua cara. Pertama, menggunakan jasa transportasi udara (Garuda Indonesia & Lion Group). Kedua, ditempuh melalui Kapal Pelni. Kalau kamu menggunakan pesawat, dari Jakarta pesawat akan terbang selama 2,5 jam untuk transit terlebih dahulu di Kota Makassar, lalu berganti pesawat dan kemudian akhirnya menuju Kota Bau Bau. Aku pilih pilihan yang pertama untuk mempersingkat waktu tempuh. Bagi yang memilih menggunakan kapal laut, waktu tempuh Kapal Pelni selama 3 hari, dengan 2 kali transit di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Pelabuhan Makassar.

Keraton Buton

img-1537113721.jpg

Perjalanan pertama ke Benteng Keraton Buton. Aku dapat melihat Kota Bau Bau secara menyeluruh dari atas Benteng Keraton Buton. Dari ketinggian, kita dapat melihat hampir semua rumah di kota ini. Benteng berukuran keliling hampir 3 KM meter, dengan tinggi benteng 2-3 meter dan ketebalan dinding hingga 2 meter. Benteng tersebut memiliki 12 pintu (lawa). Ada banyak cerita menarik dan membuat bulu kuduk merinding tentang sejarah pembangunan tempat ini. Salah satunya tumpukan batu dari benteng tersebut direkatkan dengan menggunakan putih telur. Kemudian ada batu menangis dan lubang di dalam Masjid yang bisa menembus ke alam lain. 

Aku lebih memilih berjalan kaki menuju benteng tersebut sambil melihat-lihat pemandangan di sekitarnya. Rumah-rumah di dalam benteng betul-betul dipertahankan dalam bentuk rumah asli Buton (Banua Tada = Rumah Panggung). Rumah panggung yang seluruhnya terbuat daru kayu, bahkan sampai sekrupnya. Orang-orang yang tinggal di dalamnya adalah mereka yang masih bertalian darah dekat dengan para petinggi kerajaan. Selain bangunan benteng, terdapat beberapa bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi, seperti Masjid Agung Keraton dan Makam Sultan Murhum (Sultan Pertama Buton).

Masjid Agung Benteng Keraton konon didirikan di atas bongkahan batu yang sangat besar. Di samping masjid terdapat tiang bendera yang berumur ratusan tahun. Menuju arah selatan terdapat makam Sultan Murhum, di samping makam tersebut terdapat sebuah batu yang dapat mengeluarkan air sewaktu-waktu (batu menangis). Di beberapa tempat juga terdapat beberapa goa persembunyian -yang masing-masing memiliki cerita sejarah. Di luar benteng, terdapat museum yang menyimpan benda-benda peninggalan kesultanan, mulai dari keris, tombak, meriam, alat-alat rumah tangga, dokumen-dokumen, lukisan dan masih banyak lagi.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar