Kapan Bahagia 1

Kapan Bahagia 1

"PANGGILAN terakhir penumpang dengan nomor penerbangan CX 752 tujuan Hong Kong..."

....

"Woy.. buruan!" Endo sedikit teriak sambil berlari kecil ke arah gate 7.

"Do, sabar kali.. dandan dulu dikit"

"Mo jualan?"

"Yee.. emangnya elu" 

...

Pukul 14.45 pesawat melaju dari Jakarta ke Singapura. Endo dan Lia akan melanjutkan studi S2 bisnis di Hong Kong.

Hari itu Endo agak berbeda, begitu memasang sabuk pengaman ia langsung memejamkan mata.

"Ngantuk lu? Eh, Do... somehow it's a good day to be outside gak sih?" celetuk Lia sambil menengok keluar jendela.

"Iya ya cerah... izin gih keluar bentar sama pramugari" *tersenyum

"iiiih apaan sih? ... "

Endo cuek, lalu memejamkan mata lagi, membiarkan Lia yang sibuk ngomong gak karuan.

...
Suasana mulai hening, lampu pesawat mulai redup. Ekor pesawat mulai terangkat dari landas pacu. Kursi di samping kanan Endo kosong. Di sebelahnya terlihat keluarga kecil dengan anak sekitar 3-4 tahun tengah khusu melantunkan doa.

Endo sudah terbiasa dengan tingkah sahabatnya Lia. Lia lulusan SMA yang sama dengan Endo di Bandung, mereka berdua juga melanjutkan kuliah S1 dengan kampus yang sama di Jakarta, tapi beda jurusan. Lia memutuskan untuk menikah dengan pria pilihan orang tuanya sebulan sebelum wisuda, namun tidak sampai setahun hubungan mereka berakhir. Sementara Evan masih setia sama Mayang yang dipacarinya sejak SMA dan berlanjut LDR-an ketika Mayang memilih kuliah di Bandung.

Entah apa yang dipikirkan Endo dengan menutup mata dan terus-terusan menarik napas panjang.

"Li, dua hari lalu Rikas nginap di kostan gue," Endo membuka obrolan dengan mata tertutup.

"Kirain molor lu ...... iiiiih enak dong reunian, kok gak pada ngabarin di grup WA sih?" tanya Lia sedikit kecewa.

"Datangnya udah malem, siangnya juga udah cabut," Endo masih menutup matanya.

"ooooh, trus-trus pada cerita apa aja?" Lia serius mendengarkan sambil menopang dagu.

Endo membuka matanya sebentar lalu mulai berbicara lagi.

"Cerita banyak, biasalah nostalgia, terus nanyain kelanjutan kuliah gue, dan dia sempat nanyain Mayang juga, lantas gue bilang baik-baik aja, teruuuuus tepar deh." Evan lalu sembari menyontohkan gaya tepar dan menutup matanya kembali.

"Hadeeh... kirain gosipin apaan gitu! hmmm... btw aneh gak sih, kenapa nanyain Mayang, bukannya sering ketemu di Bandung juga?" celetuk Lia dengan kepo. 

Endo terdiam dan belum belum membuka matanya kembali.

......

Endo, Lia dan Rikas satu kelas, satu tempat les dan satu geng dengan kawan lainnya. Mereka selalu belajar dan nongkrong bareng. Sementara Mayang dari SMA lain, namun sudah dikenal sebagai pacar Endo oleh beberapa temannya karena sering gabung untuk belajar bareng.

.....

Beberapa detik kemudian Endo mulai membuka matanya lagi, dengan sedikit sendu.

"Kemarin pagi sebelum dia pulang aku dapat message dari Nia... Nia bilang 'Rikas dan Mayang sering jalan bareng' "

"Oh wow! Endo... are you sure? kok jahat banget ... Eh yang bener nih?" Lia kayak kepanasan masih tidak percaya.

Endo mengiyakan dengan mengangguk dan memberi senyuman kecut ke Lia.

Lia dengan nada yang masih penasaran lantas terus menghujani Endo dengan pertanyaan.

"Oh God! Terus, lo nanya gak sama Rikas? kalian berantem gak? .......  Ya ampun Do, kalau gue nih ya, gue tampar, terus gue usir, suruh keluar tapi lompat lewat jendela!"

"Kenapa gak sekalian aja isi dalam kardus terus buang ke jendela kayak kucing, hahaha" Endo sedikit tertawa.

Kelihatan di raut muka Endo yang sedikit tertawa tapi hatinya luka.

"Gue gak tahu Li mesti ngapain, dia temen gue. Tapi yang bikin gue gak enak pagi itu mood gue berubah, entah kenapa Rikas gue cuekin dan gue langsung sibukin diri buat packing. Mungkin dia udah ngerasa gue cuekin lantas dia izin pulang" 

Lia dengan ga sabarnya langsung menimpali "Kenapa elunya yang gak enak! Hei, itu masih bagus ya lo cuma cuekin, bener-bener gak punya hati tuh orang, makan sahabat sendiri... bla.. bla..bla"

Lia dengan geramnya terus ngomong, Endo hanya bisa menjawab dengan seperlunya. Sampai roda pesawat mereka mencium landasan pacu Hong Kong.

Tidak banyak lagi yang mereka bicarakan sesampainya di Hong Kong, selain mengurusi imigrasi dan bagasi. Endo tidak mau terbawa perasaan yang begitu dalam lagi, dia hanya ingin memulai hidup barunya lagi.

Berbulan-bulan Endo mengikhlaskan apa yang telah terjadi dihidupnya. Satu hal yang dipelajari Endo, kalau terkadang cinta tidak hidup di hati saja, dia akan berpindah antara hati dan akal, lalu bisa hilang ketika letaknya berjauhan.

....

Satu tahun telah berlalu.

Endo lagi menghadiri sebuah mini party di Sky Terrace, The Peak.

Sambil beristirahat dan meneguk air mineralnya, Endo mengecek ponselnya. Whatsapp grup angkatan SMA mulai rame lagi. Ada 1 buah foto yang masuk, tampak blur karena Endo sengaja menonaktifkan media yang terdownload secara otomatis. Begitu Endo menyentuh foto tersebut langsung terlihat kalau itu foto undangan, ada nama Rikas dan Mayang yang akan melangsungkan pernikahan.

Endo tersenyum, tidak ada lagi rasa kecewa atau marah sedikit pun. Ternyata selama ini Mayang dititipkan Tuhan lewat Endo untuk menjadi jodoh Rikas.

"Mungkin jodohku masih bersama orang lain juga" seru Endo dalam hati, tersenyum, lalu melompat ke bawah.


---

Klik menu Video untuk dengar OST. Kapan Bahagia, Lirik diciptakan dan dinyanyikan sendiri oeh sahabat saya Samandayu sebelum meninggal karena strok.


Komentar

  1. Selasa, 04 September 2018 Meri Aprilia

    Cerpennya sepintas tapi cukup buat terenyuh. ditunggu yg kedua ketiga keempat dst

    • Selasa, 04 September 2018 Admin

      Terima kasih Meri :)

  2. Selasa, 04 September 2018 Gusti

    Curhat ya Dhit ? wkwkwk

    • Selasa, 04 September 2018 Admin

      Oiii Gusti... ini Fiksi kok :)

  3. Rabu, 05 September 2018 Elisabeth

    Cant wait for “Part 2”. Keep up the good story , Aditt :))

    • Rabu, 05 September 2018 Admin

      Thank You Elisabeth :)

Tambahkan Komentar