Kapan Bahagia 1

Kapan Bahagia 1

Oleh: @adhitlan


"PANGGILAN terakhir penumpang dengan nomor penerbangan GA 5201 tujuan Singapura ..."


"Woooy buruan! ditinggal kita, Li!" Evan sedikit teriak sambil berlari kecil ke arah gate 11.

"Iiiih Evan, sabar kali.. masukin laptop dulu, pesawatnya juga bakal nungguin kok" sambil menengok Evan yang hampir hilang di tikungan.


Pukul 09.45 pesawat melaju dari Jakarta ke Singapura. Evan duduk di tengah sementara Lily di pojok dekat jendela. Mereka berdua akan melanjutkan kuliah S2 bisnis di NUS. Hari itu Evan agak berbeda, begitu memasang sabuk pengaman dia langsung memejamkan matanya.

"Ngantuk pak? tidur mulu. Hmmm, somehow it's a good day to be outside gak sih?" celetuk Lia sambil menengok keluar jendela.

"Iya ya cerah... izin gih sama pramugari!" *tersenyum

"iiiih, ketus! lu kenapa sih? udah tadi ninggalin gue, jalannya cepet banget, .... hiiih lu dengerin gue gak sih?"

Evan cuek, lalu memejamkan mata lagi, membiarkan Lia yang sibuk ngomong gak karuan.


Suasana mulai hening, lampu pesawat mulai redup. Ekor pesawat mulai terangkat dari landas pacu. Kursi di samping kanan Evan kosong. Di sebelahnya terlihat keluarga kecil dengan anak sekitar 3-4 tahun tengah khusu melantunkan doa.

Evan sudah terbiasa dengan tingkah sahabatnya Lia. Lia lulusan SMA yang sama dengan Evan di Bandung, lalu mereka berdua juga melanjutkan kuliah S1 dengan kampus yang sama di Jakarta, tapi beda jurusan. Lia memutuskan untuk menikah dengan pria pilihan orang tuanya sebulan sebelum wisuda, namun tidak sampai setahun hubungan mereka berakhir. Sementara Evan masih setia sama Mayang yang dipacarinya sejak SMA dan berlanjut LDR-an ketika Mayang memilih kuliah di Bandung.

Entah apa yang dipikirkan Evan dengan menutup mata dan terus-terusan menarik napas panjang.

"Li, dua hari lalu Rikas nginap di apartemen gue," Evan membuka obrolan dengan mata tertutup.

"Kirain molor lu ...... iiiiih enak dong reunian, kok gak pada ngabarin di grup WA sih?" tanya Lia sedikit kecewa.

"Datangnya udah malem, siangnya juga udah cabut," Evan lalu membuka matanya.

"ooooh, trus-trus pada ngapain aja?" Lia serius mendengarkan sambil menopang dagu, dan menyender sedikit ke jendela.

"Cerita banyak, tentang teman-teman kelas kita dulu, terus nanyain kelanjutan kuliah gue, dia sempat nanyain Mayang dan gue bilang baik-baik aja, teruuuuus tepar deh." Evan lalu sembari menyontohkan gaya tepar dan menutup matanya kembali.

"Iyuhhh... kirain gosipin gue! emmmm... Aneh gak sih, kenapa nanyain Mayang, deh?" celetuk Lia dengan nada penasaran. 

Evan terdiam dan belum belum membuka matanya kembali.


Evan, Lia dan Rikas satu kelas, satu tempat les dan satu geng dengan kawan lainnya. Mereka selalu belajar dan nongkrong bareng. Sementara Mayang dari SMA lain, namun sudah dikenal sebagai pacar Evan oleh beberapa temannya karena sering gabung untuk belajar bareng.


Beberapa detik kemudian Evan mulai membuka matanya lagi, dengan sedikit sendu.

"Kemarin pagi sebelum dia pulang aku dapat message dari Nia... Nia bilang 'Van, Rikas dan Mayang jalan bareng' "

"Oh My God! Evan... are you sure? kok jahat banget ... Ah gak mungkin ah, gue gak percaya sih." Lia kayak kepanasan masih tidak percaya.

Evan mengiyakan dengan mengaguk dan memberi senyuman kecut ke Lia.

Lia dengan nada yang masih penasaran lantas terus menghujani Evan dengan pertanyaan.

"Oh God! Terus, lo nanya gak sama Rikas? kalian berantem gak? .......  Ya ampun Van kalau gue nih ya, gue tampar, terus gue usir, suruh keluar tapi lompat lewat balkon!"

"Kenapa gak sekalian aja isi dalam kardus terus buang ke jendela kayak kucing, hahaha" Evan sedikit tertawa.

Kelihatan di raut muka Evan yang sedikit tertawa tapi hatinya luka.

"Gue gak tahu Li mesti ngapain, dia temen gue. Tapi yang bikin gue gak enak pagi itu mood gue berubah, entah kenapa Rikas gue cuekin tanpa kejelasan dan gue langsung sibukin diri buat packing. Mungkin dia udah ngerasa gue cuekin lantas dia izin pulang." 

Lia dengan ga sabarnya langsung menimpali "Kenapa elunya yang gak enak! Hei, itu masih bagus ya lo cuma cuekin, bener-bener gak punya hati tuh orang, sahabat sendiri di khianatin .... bla.. bla..bla"

Lia dengan geramnya terus ngomong, Evan hanya bisa menjawab dengan seperlunya. Sampai roda pesawat mereka mencium landasan pacu Singapura.

Tidak banyak lagi yang mereka bicarakan sesampainya di Bandara Changi, selain mengurusi migrasi dan bagasi. Evan tidak mau terbawa perasaan yang begitu dalam lagi, dia hanya ingin memulai hidup barunya lagi.

Berbulan-bulan Evan mengikhlaskan apa yang telah terjadi dihidupnya. Satu hal yang dipelajari Evan, kalau terkadang tjinta tidak hidup di hati saja, dia akan berpindah antara hati dan akal, lalu bisa hilang ketika letaknya berjauhan.


Satu tahun telah berlalu.


Evan lagi menekuni hobbi barunya yaitu running di pelataran Garden By The Bay. Sambil beristirahat dan meneguk air mineralnya, Evan mengecek ponselnya. Whatsapp grup angkatan SMA mulai rame lagi. Ada 1 buah foto yang masuk, tampak blur karena Evan sengaja menonaktifkan media yang terdownload secara otomatis. Begitu Evan menyentuh foto tersebut langsung terlihat kalau itu foto undangan, ada nama Rikas dan Mayang yang akan melangsungkan pernikahan.

Evan tersenyum, dalam hati turut senang, tidak ada lagi rasa kecewa atau marah sedikit pun. Ternyata selama ini Mayang dititipkan Tuhan lewat Evan hanya untuk menjadi jodoh Rikas.

"Mungkin jodohku masih bersama orang lain juga" pinta Evan dalam hati, tersenyum sambil berlalu.


---

Klik menu Video untuk dengar OST. Kapan Bahagia





Artikel Terkait

Komentar

  1. Selasa, 04 September 2018 Meri Aprilia

    Cerpennya sepintas tapi cukup buat terenyuh. ditunggu yg kedua ketiga keempat dst

    • Selasa, 04 September 2018 Admin

      Terima kasih Meri :)

  2. Selasa, 04 September 2018 Gusti

    Curhat ya Dhit ? wkwkwk

    • Selasa, 04 September 2018 Admin

      Oiii Gusti... ini Fiksi kok :)

  3. Rabu, 05 September 2018 Elisabeth

    Cant wait for “Part 2”. Keep up the good story , Aditt :))

    • Rabu, 05 September 2018 Admin

      Thank You Elisabeth :)

Tambahkan Komentar