Jilati Aku

Jilati Aku

MALAM sudah begitu larut, cahaya bulan terkalahkan pekatnya gelap.

Angin hanya sesekali bertiup, tapi dinginnya menyelinap sampai keselangkanganku.

Saya seorang diri, tepat di depanku ada gang yang sebentar lagi saya lalui.

Saya menengok jauh, terlihat hanya sedikit lampu jalan, itu pun terlihat samar di ujung sana.

"Saya harus kuat, saya pasti bisa!" seruku dalam hati.

Walapun tak terlihat dari sini, tapi saya tahu di tengah sana pasti banyak cobaan.

Saya mulai berjalan tapak demi tapak. Lurus ke depan. Tidak mau menoleh ke kiri dan kanan.

Saya terus saja berjalan, sedikit pun tidak tertatih agar tidak terkesan cari perhatian. Lampu jalan sedikit demi sedikit mulai berkurang terangnya, kemudian mulai tipis-tipis menyinari, lalu hilang di telan gelapnya malam. Hanya pantulan cahaya bulan dan sedikit cahaya dari rumah-rumah yang menyinari jalan ku. Berharap saya cepat sampai di ujung sana. Saya mulai melihat sosok yang samar-samar mendekati, tapi saya pura-pura tidak tahu saja.

"Hai manis, mau kemana? Mau saya temenin?" tanya seorang yang masih belia.

"Tidak, terima kasih!" pintaku dengan sedikit takut-takut.

Saya terus saja berlalu. Sesekali saya gerakkan bola mataku ke kanan, mencari tahu, apa dia mengikutiku.

"Akh, kenapa begitu sulit kusembunyikan takdirku," bisikku dalam hati.

Saya berdoa dalam hati, berharap jalanan gelap ini cepat berlalu.

"Hai manis, mau aku jilati?" pinta pemuda belia tadi.

Saya kaget. Ternyata dia terus mengikuti saya.

"Jangan ganggu saya!" kataku dengan geram, sambil tetap berjalan.

"Sayang, tidak usah malu-malu lah, sini, jilati aku," teriak yang lain yang sandar sambil ngangkang di depan toko.

Saya mulai berontak. Saya sedikit berjalan cepat. Ingin menyudahi perjalananku dan sampai di rumah dengan selamat.

"Ouuuw" aku berteriak kecil, aku shock untuk beberapa detik.

Ada yang mengelus paha atasku. Saya tidak tahu pasti, itu jilatan atau ayunan tangan.

Aku berhenti.

Aku marah.

Tapi dia mulai merayuku lagi.

"Manis, sedikit saja aku jilati, kamu pasti suka"

Mereka terlihat mulai memperebutkan. Saya tidak mungkin pasrah begini, saya orang baik-baik. Walaupun selangkanganku mulai bergejolak.

"Tolong, jangan ganggu saya," pintaku, setengah memohon kepada mereka.

"Tolong, hargai saya, saya hanya pengen sampai ke rumah" dramaku lagi.

Tanpa aba-aba, saya pakai langkah seribu, tidak, ini masih kurang, langkah puluhan ribu. Menjauh dari dari kawanan hidung belang itu. Saya sangat marah, pengen nangis, bercampur aduk.

Sesekali saya menengok ke belakang, rupanya mereka tidak mau mengejarku lagi.

"Hei, sayang!"

"Ehhh"

Saya tersentak, kaget.

Bulu kuduk ku sontak berdiri tadinya. Lalu lega setelah melihatnya dengan jelas.

"Oh, kamu, bikin kaget aja," sambil memegang dada.

"Kok ketakutan gitu?"

"Itu sayang tadi ada yg jahilin saya di lorong sana" saya mengadu pada pacar kesayanganku.

"Siapa dia, biar aku garuk otaknya sampai hancur"

"Tidak usah sayang, mending kamu garuk saya dengan cintamu, jilati saya dengan... " kata-kataku tidak sampai habis. Dia sudah langsung menjilatiku, mungkin dia lagi birahi. 

"Ah dasar kucing nakal" bisikku.

"Terima saja takdirmu, kucing belangku." bisik dia, sambil terus menjilati ekorku.

Artikel Terkait

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar