Jangan Biarkan Terkucilkan

Jangan Biarkan Terkucilkan

Entah saya mesti mulai dari mana cerita ini. Terkadang masih penuh penyesalan yang tak berarti. 

Saat itu saya kumpul bareng teman-teman SMA untuk buka puasa di salah satu rumah makan. Disela-sela obrolan, salah satu teman mulai berbisik-bisik dengan teman lain, menunjukan sebuah foto lewat ponsel. Beberapa keheranan, bergumam seraya tak menyangka dengan apa yang ada di layar ponsel itu. Saya pun mulai penasaran menanyakan, ada apa sih?

Ponselnya pun didekatkan, dan saya pun langsung mengenalinya, dia keluarga jauh saya, sebut saja M. Tubuhnya sudah sangat kurus. Dia menderita TB atas pengakuannya, pada teman saya. Cerita-cerita lain pun mengalir dengan sendirinya sepanjang malam itu. 

Keesokan harinya saya ngabuburit bareng geng kuliah saya lagi. Dan ternyata sampai juga pada pembahasan yang sama tentang si M ini. Dengan ciri-ciri yang diceritakan, dan pengakuan dia kalau dia mengidap HIV. Perlakuan diskriminasi pun sempat diceritakan teman saya ini. Kata dia, bapaknya enggan dekat-dekat dengan M saking takutnya. Hanya 1 orang yang cukup sering mendatangi (Saya pikir itulah yang disebut pendamping pengidap HIV) karena memang harus didampingi, atau mungkin hanya seorang sahabat yang tidak tega melihat kondisinya terkucilkan.

Muncul rasa penasaran ingin sekali menghubunginya atau menjenguknya, untuk sekedar bilang apakah butuh informasi lebih tentang penyakitnya, atau bantuan untuk penanganan yang lebih serius, atau sekedar menjadi teman cerita untuk mengurangi beban di hati.

Begitu pulang ke rumah, saya langsung WA (Whatsapp) sepupu saya untuk menanyakan kontak si M ini. Walaupun beberapa tahun lalu hanya sekali bertemu pas lebaran, saya yakin dia masih cukup kenal dan ingat, karena sempat chat-chat-an juga lewat Facebook sewaktu dia kuliah di Yogya. Paling tidak dia mau terbuka dengan saya.

img-1561206036.jpg

Saya lantas tidak langsung mengontaknya, karena memang sudah jam 10an malam. Saya pikir, better besok aja. Saya pun tidak langsung tidur. Saya buka You Tube, menonton pengakuan orang-orang penderita HIV-AIDS atau yang biasa disebut ODHA. Ternyata ciri-cirinya bermacam-macam, dari permasalahan kulit yang kering bersisik, sariawan yang tak kunjung sembuh, sampai timbul pembengkakan pada kelenjar getah bening yang terdapat di selangkangan, ketiak atau leher. Dan yang paling dihindari adalah TB (Tuberkulosis) yang rentan ditemui pada ODHA. Kalau kalian sudah memiliki tanda-tanda di atas segeralah tes dan lakukan pengobatan secara dini. Obat HIV tidak membuat terbebas tapi cuma menidurkan virus tersebut. Bila sesorang telah mengkonsumsi obat dengan tepat waktu tiap harinya (sampai memasang alarm khusus), misalkan pukul 8 atau 9 malam wajib minum obat, dia fix penderita HIV.

Keesokan harinya 4 Juni, saya sibuk dengan persiapan lebaran. Depag memutuskan Hari Raya Idul Fitri 2019 jatuh ditanggal 5 Juni. Seperti biasa silaturahmi antar keluarga silih berganti, keesokannya jiarah ke pemakaman kakek nenek.

Tepat tanggal 7 Juni, WA dari sepupu saya masuk lagi.

img-1561205999.jpg

Seketika saya shock. Saya lupa.

-_- Penyesalan selalu terjadi belakangan. Kita tidak bisa memilih waktu dan bagaimana cara untuk mati. Kita tidak pernah tahu bagaimana takdir Tuhan berjalan. Jika kalian punya teman dengan ODHA, tidak perlu menjauhinya. Bercanda dan bercerita seperti biasa saja. Jenguk bila dia sakit, tetap berada disampingnya dan menyemangatinya. Atau mungkin mereka tidak perlu disemangati dengan lebaynya, cukup selalu menjadi teman yang baik dan selalu jalan bareng seperti biasa. Tidak ada seorang pun yang menginginkan dirinya ODHA. Terlepas dari bagaimana cara virus tersebut menggorogotinya, kalian tidak perlu menelusurinya sebegitu jauh. Entah lewat vagina atau kah penis, jaruh suntik atau lewat luka, tidak perlu kalian tanya. Sekali lagi jangan menjauh, cukup menjadi teman yang seperti dulu.

 

NB: Tulisan ini buat M dan ODHA lainnya. Setiap orang pasti akan mati, tapi cara dan waktunya cuma Tuhan yang tahu.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar