Jadi TKI di Singapura atau di Jepang

Jadi TKI di Singapura atau di Jepang

ENTAH angin dari mana yang membuatku semangat ingin menjadi TKI. Saya pun melamar pekerjaan pada beberapa perusahaan Jepang di Singapura. Dengan kualifikasi yang saya miliki, tidak terlalu buruklah untuk mencapai standar yang mereka mau. Akhir Januari, saya mendapatkan email, saya lolos dan dipanggil untuk interview di Singapura. Setidaknya ada 2 perusahaan Jepang yang tertarik dengan profil saya. Dalam kesempatan itu, mereka menyediakan tiket pesawat business class dan akomodasi selama di Singapura.

Interview tepat di tanggal 14 Februari. "Iya, itu Valentine Day". Tidak mengapa, kisah pertjintaan saya suram untuk dikisahkan. 

Sudahlah, ngomongin pahitnya tjinta memang tidak ada habisnya. Kisah tjinta saya memang tidak akan pernah seperti Hamis Daud apalagi Vino G Bastian. Jauh gengs. wkwkwwk

Tanggal 13 Februari saya pun terbang ke Singapura karena besok paginya sudah harus di venue. Tiba di Changi sudah siang sekitar jam 12 siang, saya memutuskan untuk ke hotel dulu, setalah itu makan siang. Hotel saya terletak di Jalan Dickson area Little India, terbayang kan, kalau nama jalan itu dipenggal jadi 2 suku kata. Saya sih tidak mau memenggalnya.

Di ujung jalan Dickson terdapat tempat makan khas India yang lumayan enak menurut saya. 

Oh iya, ini kali keduanya saya ke Singapura, jadi sudah agak hafal jalur-jalur utamanya. Entah mengapa, saya selalu suka dengan suasana kota ini. Walaupun tempat yang saya kunjungi itu-itu saja, namun siapa pun yang mengajak pasti saya mau ke sini lagi.  Saya menghabiskan malam itu di China Town. Saya memang tidak terlalu suka keramaian, tapi kalau tempatnya di pasar malam dan bukan di klub saya pasti antusias. 

Hari H tiba. Pagi, 14 Februari 2015.

Wawancara pertama saya dengan salah satu perusahaan Jepang yang berkantor di Singapura. Tidak banyak pertanyaan. Tapi saat membahas tentang salary saya merasa kurang setuju. Setelah saya hitung-hitung, biaya hidup tidak seimbang, nantinya saya hanya akan bisa menabung beberapa juta saja per bulannya. Masih lebih enak hidup di Indonesia. Saya tidak bilang menolak saat itu, saya hanya bilang pikir-pikir dulu dan nantinya akan saya balas dengan surel keberatan.

Perusahaan kedua, bertempat di Jepang, interview saya lancar bersama sang manager HRD. Saya lupa namanya, umurnya sekitar 40an tapi masih terlihat muda. Salary sangat oke, stay di Jepang, dan tersedia homestay gratis. Kemudian saya disuruh datang kembali untuk tanda tangan kontrak di Marina Bay Sand Hotel nanti malam. Saya pun setuju. 

Saya diajak untuk makan malam di restoran hotel terlebih dahulu, lalu saya pun diajak ke kamarnya untuk tanda tangan kontrak. Kami pun ngobrol-ngobrol singkat, dia mulai dengan menuangkan red wine di gelas, saya manggut saja. Itu pertama kalinya saya mencicipi red wine dan ternyata pahit. Sebelum tanda tangan kontrak, dia meminta sesuatu sebagai prosedur perusahaan, bahwa tidak boleh ada tindikan dan tato di tubuh. Saya pun disuruh buka baju. Ah tapi cuma buka baju ini kan, saya pun mengikuti instruksinya dengan indah. Dia perlahan memutari tubuh saya dan sambil mencari-cari sesuatu. Dia mulai menyentuh pundak saya. Tangannya dingin. Dia bilang suka sama badan saya. Aku mulai berpikir tak wajar, ketika dia menyuruh saya lagi untuk membuka celana jeans saya. Damn! Saya mulai terjebak di sini, berharap keajaiban datang. Dia mulai duduk di ranjang dengan menyilangkan kaki. Saya mulai membuka celana dengan berat hati, matanya terus mengarah ke tangan saya. Saya membuka kancing celana secara perlahan, kemudian resleting dengan pelan-pelan, lalu hendak menurunkan celana saya. Saya tahu dia menantikan alat kelamin saya yang tergantung strategis di hadapannya. Namun, pause sejenak, telepon saya berdering. Terlihat roman mukanya yang tadinya antusias berubah jadi datar. Telepon itu dari ibu saya. Saya pun minta izin untuk menerima panggilan dulu, dia mengiyakan. Beberapa detik ketika saya mengobrol, dia memberi isyarat kalau dia mau ke toilet. Ini kesempatan saya untuk kabur, saya mengambil kemeja, memakainya, terus berjalan keluar kamar, sambil terus mengancing kemeja saya. Keadaan saya malam itu seperti escort yang keluar dari kamar hotel. Oh ternyata begini rasanya.

Entah saya mesti bersyukur atau tertawa atau sedih, saya tidak tau lagi, semua bercampur.

Setelah kejadian itu, saya belum tahu apakah mau mencoba menjadi TKI lagi atau tidak. Saya mungkin 1 dari ratusan pelamar yang lagi dapat kejutan spesial saat itu.

img-1536591408.jpg

Bersama beberapa teman dari Fillipina. 

img-1536596825.jpg

Bersama teman-teman dari Indonesia

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar