Book Launching Blue Carbon dan Perubahan Iklim

Book Launching Blue Carbon dan Perubahan Iklim

    Senang sekali dapat kesempatan untuk menulis tentang Blue Carbon dan Perubahan Iklim. Pada tanggal 17 Agustus 2019, saya bersama FNF Indonesia mengadakan e-book launching di Kota Manado, sekaligus untuk mensosialisasikan pemahaman tentang Perubahan Iklim dan Blue Carbon. Mengingat Indonesia telah kehilangan lebih dari seperempat luas hutan bakau dalam tiga dekade terakhir. Bahkan tiap tahunnya kita bisa kehilangan puluhan ribu hektar area Blue Carbon.

“Daerah pesisir di Indonesia sangat luas, hal ini dapat menjadi lahan yang cocok untuk mengelola Blue Carbon kita. Pengelolaan Blue Carbon di Indonesia diyakini akan mampu mempercepat target penurunan emisi karbon sesuai dengan NDC (Nationally Determined Contributions) Indonesia dan target penurunan emisi Indonesia bisa lebih maksimal dari 29 persen pada tahun 2030 nanti.


img-1551460443.jpg


Berbeda dengan ekosistem daratan yang cenderung akan rusak dan kembali melepaskan karbon, ekosistem pesisir justru mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam sendimen secara terus-menerus dalam kurun waktu yang lama, bila dikelola dengan baik. Terdapat tiga ekosistem yang berpotensi sebagai Blue Carbon, yaitu Mangrove, Padang Lamun, dan Rawa Payau. Indonesia butuh memaksimalkan ketiga ekosistem ini sebgai garda terdepan penyerap emisi karbon.

Di era digital saat ini  millennials berperan penting dalam mengurangi jejak karbon individunya. Selain itu millennials memiliki potensi untuk mewujudkan kelestarian Blue Carbon di daerahnya masing-masing, salah satunya dengan berkolaborasi dengan lintas lini, seperti pemerintah, NGO, sampai komunitas-komunitas pro-lingkungan. Sosial media bisa menjadi tempat untuk mengampanyekan Perubahan Ikim dan Blue Carbon. Mengingat semangat ecotourism lebih melekat pada generasi milenial saat ini.

Terima kasih FNF Indonesia dan masyarakat Kota Manado.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar