Berlin Seperti Mimpi

Berlin Seperti Mimpi

Oleh: @adhitlan

    Cerita perjalanan saya kali ini bisa dikatakan takdir. Anehnya, dulu semasa kuliah, Saya gak tahu hal apa yang menggerakan hatiku untuk ikutan belajar kursus bahasa Jerman, padahal dulu senangnya hal-hal yang berbau Jepang. Saya masih ingat senior-senior saya mengajak untuk kursus bareng di dekat kampus, karena lagi ada promo ngajak teman dapat diskon. Lumayan untuk anak kost-kostan dengan uang saku pas-pas-an. Beberapa kali aku diajak teman juga untuk ke Goethe Haus (Pusat bahasa dan budaya Jerman di Gondangdia, Jakarta), bukan untuk daftar kursus (sampai menangis india pun aku tak sanggup bayarnya), hanya sekedar melihat-lihat perpustakaannya yang luar biasa bagus.

    Sampai akhirnya saya bertemu FNF Indonesia lewat beberapa workshop. Saya dinominasikan untuk melakukan visiting startup ke Jerman dengan beberapa tahapan seleksi, dan akhirnya pun terwujud. Di Jerman saya akan tinggal selama 10 hari, dan bahagianya bukan saja di Kota Berlin, tapi kita akan berkunjung ke kota-kota lainnya seperti Hamburg, Dusseldorf, Oberhausen dan Duisburg. Seluruh biaya transportasi dan akomodasi ditanggung oleh Friedric Naumann Stiftung.

img-1537173549.jpg
Kawan-kawan dari komunitas yang mengantar, ini drama sih... hahaha (Elisabeth, Putri & Eva)

    Saya sedikit lega karena ini perjalanan atas undangan khusus dari Jerman, maka segala sesuatunya dipermudah di kedutaan untuk pengurusan Visa. Saya pun menggunakan maskapai Turkish Airlines, dengan negara transit Turki. Selama di pesawat saya kenalan dengan beberapa teman yang rata-rata akan pergi bekerja. Sesampainya di Bandara Instanbul, hal yang pertama kami cari adalah WIFI. Bandara Istanbul rupanya kurang ramah wifi di beberapa titik, kami pun harus ke starbucks demi mendapatkan seberkah WIFI gratis.
img-1537173732.jpg
Penampakan tiket Turkish Airlines (norak ya, demi kekinian)

BERLIN
    Saya sampai di Berlin sudah agak siang, beberapa saat sempat heran dengan bandaranya yang kecil dan agak sempit untuk ukuran bandara Internasional. Di sini petugas imigrasinya sangat tegas dan ketat memeriksa seluruh dokumen-dokumen, tapi akhirnya lolos juga. Udara di Berlin cukup dingin walaupun saat itu lagi summer. Saya pun mencari taxi untuk menuju hotel, btw taxi di sini mobilnya mewah semua untuk ukuran "taxi" pada umumnya. Pada hari pertama saya tiba di Berlin langsung disambut oleh Armin Reinartz di Hotel Mercure Berlin. Sore itu dimulai dengan perkenalan dan dinner bersama di salah satu restoran Vietnam yang letaknya tidak jauh dari Hotel tempat kami menginap. Saat itu terdapat 6 delegasi lainnya dari Asia Tenggara dan Taiwan yang turut diundang oleh FNF, diantaranya ada Aisa Mijeno (Filipina), Samantha Kapunan (Filipina), Karen Yu (Taiwan), Ganesh Murrurti (Malaysia), Doan Ky Thanh (Vietnam), dan Su Wai Yee (Myanmar). Enam delegasi tersebut merupakan founder startup di negaranya masing-masing. Malam itu kami larut dalam suasana perkenalan, bertukar cerita seputar asal masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan rundown kegiatan selama di Jerman. 

img-1537175131.jpg
Foto alay pertama saya begitu sampai di Jerman, ini di depan hotel.

    Saya agak heran awalnya, makan malam jam 7 malam, tapi hari masih tampak sore hari. Ternyata di Eropa pukul 9 lah baru langit akan terlihat gelap. Oh iya, setelah makan malam saya sudah janjian dengan kawan lama saya yang sudah saya anggap adik sendiri, dia anak sulung dari Vivid F. Argarini (Beliau sudah saya anggap sebagai kakak sendiri, bagaimana saya kenal beliau? silahkan klik di sini). Namanya Charisma, sebelum ke Jerman ibunya menitipkan sesuatu ke Charis.

img-1537175078.jpg
Bersama Charis yang kuliah di Jerman

    Hari kedua, kami bersama-sama menuju salah satu kantor FNF untuk menghadiri seminar. Tidak begitu jauh, jadi kami berjalan kaki beberapa blok dari hotel. Saya akan bahas sedikit tentang seminar hari ini, kalau merasa gak penting bisa di skip aja ke paragraf bawah. Seminar hari itu berisi tipikal dan fakta-fakta tentang Jerman, kerangka hukum, venture capital, pemasaran dan strategi penjualan, pengembangan dan penerapan produk inovatif, pembiayaan dan promosi serta tantangan dan solusi pebisnis pemula. Banyak strategi-strategi khusus yang dibagikan oleh mereka, mulai dari mengenal kebiasaan konsumen kita, bagaimana segmen pasar kita dan yang terpenting adalah membangun relasi yang berkelanjutan. “Pengembangan dan inovasi juga merupakan hal terpenting yang perlu dipertahankan dan harus berkelanjutan untuk menjadikan perusahaan kita tetap kuat dan bertahan” jelasnya. Mereka juga memaparkan bahwa banyak perusahaan pemula bangkrut ketika funding & promotion mereka lemah, mereka sulit merebut perhatian venture capital untuk penambahan modal. Kalaupun venture capital tidak terlalu dibutuhkan maka yang mesti perusahaan itu lakukan adalah memperkuat pemasaran dan strategi penjualan.

    Kurang lebih seperti itu apa yang saya dapatkan pagi itu, dan masih banyak advice lainnya dari-hari berikutnya. Saya tidak akan jelaskan secara rinci di sini agar blog ini tidak berubah jadi blog materi seminar, hehehe. Yang paling menarik dibahas tentunya tempat-tempat wisatanya, hehe. Masih di hari kedua, setelah jam 5 sore, kami pun diberi waktu bebas, saya memutuskan untuk berkeliling-keling di sekitar hotel. Mencoba snack-snack unik, dan masuk ke toko-toko souvenir.

    Hari ketiga, sebelum kami berkunjung ke beberapa perusahaan venture capital, kami diajak untuk menuju kawasan Brandenburg dengan mini bus. Kemudian diajak walking tour menuju Reichstag Dome.

img-1537178091.jpg
Brandenburg

img-1537178016.jpg

Reichstag Dome

    Tidak berhenti sampai di situ, kami pun diajak untuk Boat Tour mengitari city-Spreefahhrt.

img-1537178344.jpg

img-1535735546.jpg

img-1537178418.jpg

    Kegiatan terakhir di Berlin berakhir dengan malam malam di salah satu restoran Italia. Besok kami akan menuju kota selanjutnya yaitu Hamburg! Saya akan ceritakan di episode selanjutnya, klik di sini.

img-1537178503.jpg

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar